Ada satu momen dalam sehari ketika cahaya belum sepenuhnya datang dan gelap belum sepenuhnya pergi. Sebuah garis tipis di langit yang tidak berisik dan tidak dramatis—ia hanya hadir dengan tenang, pelan, namun pasti. Momen inilah yang menjadi ruh dari maxi single terbaru Pendarra berjudul Semburat. Jika album sebelumnya, Ode Matahari, merupakan perjalanan tentang cobaan dan kemenangan, tentang mendaki dan menaklukkan, maka Semburat adalah duduk sejenak setelahnya. Bukan perayaan, bukan pula ratapan, melainkan sebuah fase menerima.
“Kami tidak sedang membuktikan apa-apa di sini. Kami sedang merasakan,” ungkap Pendarra. Dalam proses kreatifnya, Pendarra menggandeng Petra Sihombing sebagai produser maxi single ini. Bersama Petra, Semburat diarahkan menuju lanskap sonik yang lebih subtil dan intim—produksi yang memberi ruang pada tiap nada untuk bernapas, dan pada tiap emosi untuk hadir tanpa tergesa. Pendekatan ini semakin mempertegas karakter reflektif yang menjadi inti dari rilisan tersebut.
Dalam Semburat, Pendarra tidak berbicara dengan suara lantang. Mereka justru memilih meredam volume. Emosi yang dihadirkan terasa lebih ditahan, lebih hening, seolah memberi ruang bagi pendengar untuk ikut bernapas di sela-selanya. Tema yang mengalir di dalamnya adalah ketenangan—bukan karena badai telah tiada, melainkan karena tak ada lagi kebutuhan untuk melawan angin.
Maxi single ini terdiri dari tiga lagu: Tentang Mimpi Berupa Pelangi, Jemari Bunga yang menghadirkan kolaborasi dengan Reda Gaudiamo dan Jerash Malibu, serta Sepenuh Hati bersama Nostress. Ketiga lagu ini tidak dibingkai dalam alur yang linear, melainkan tumbuh dari pengalaman-pengalaman yang saling bersambung—seperti hidup itu sendiri, yang sering kali baru terasa utuh ketika dikenang kembali.

Inspirasi Semburat lahir dari fragmen-fragmen kecil: percakapan yang tertunda, kehilangan yang tak sempat diutarakan, serta perasaan yang tumbuh tanpa seremoni. Pendarra tidak sekadar menceritakan peristiwa-peristiwa tersebut; mereka menyusunnya ulang dan memberi makna baru pada apa yang telah terjadi. “Kami belajar bahwa cahaya paling murni sering muncul ketika hari belum sepenuhnya terang,” ujar Junet. “Kami ingin mereka yang berjalan bersama kami merasakan keleluasaan, bukan euforia.”
Desi menambahkan, “Rasanya kami sudah cukup lama menahan napas. Dengan hadirnya Semburat, akhirnya kami bisa menghirup napas itu kembali sepenuhnya. Setelah tahun yang penuh pergulatan dan perjuangan masing-masing, lagu-lagu ini menjadi ruang untuk pulang—tempat kami merasa lega, dan menemukan harapan yang pelan tapi pasti tumbuh.”
Jika pada karya sebelumnya Pendarra terdengar seperti sedang mendaki dengan napas memburu, kini mereka terdengar seperti seseorang yang duduk di puncak yang tidak terlalu tinggi—memandang lembah, menyadari perjalanan belum selesai, namun tak lagi tergesa. Semburat bukanlah babak yang memutus masa lalu, melainkan kelanjutan yang lebih lembut: sebuah pendar tipis yang menandai kesiapan untuk menyambut kemungkinan-kemungkinan baru. Maxi single Semburat akan tersedia di seluruh platform musik digital.













