Marcell Siahaan Merilis “Menuju Cahaya” , Sebuah Perjalanan Batin Manusia Dan Belajar Untuk Jujur Pada Diri Sendiri

“Menuju Cahaya” merupakan single religi kedua dari Marcell yang dirilis pada 26 Februari 2026. Karya ini hadir setelah sebelumnya, pada tahun 2024, ia merilis single bertajuk “Tawakal”. Seperti karya terdahulu, lirik, komposisi, hingga aransemen “Menuju Cahaya” kembali ditulis dan digarap sendiri olehnya, menegaskan konsistensi Marcell sebagai musisi yang terlibat penuh dalam setiap aspek kreatif karyanya.

Dirilis melalui label rekaman dan penerbit musik miliknya sendiri, Ruang Menyusui Records dan MKH Publishing, single ini diproduksi langsung oleh Marcell sebagai pengarah musik utama. Proses rekaman vokal dilakukan oleh Yusuf Effendi Hadiyanto di studio Ruang Menyusui, dengan dukungan para musisi dan kru belakang layar berpengalaman. Di antaranya adalah Gatot Alindo pada gitar akustik dan elektrik, Ivan Alidiyan pada keyboard dan synthesizer, Stefanus Adi Wibowo sebagai pengarah vokal, serta Lawrence ‘Random’ Widarto yang bertindak sebagai mixing and mastering engineer. Menambah kedalaman emosional lagu, sang istri tercinta, Rima Melati Adams, turut membacakan penggalan lirik puitis berbahasa Inggris. “Jelas, cuma Rima yang paling fasih dan paling bagus pelafalan bahasa Inggris-nya di rumah ini,” ujar Marcell jujur.

Secara tematik, “Menuju Cahaya” berbicara tentang perjalanan batin manusia—sebuah fase ketika seseorang berhenti merasa sebagai pusat segalanya, lalu mulai melangkah menuju sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. Lagu ini tidak menitikberatkan pada pencapaian, melainkan pada pelepasan; bukan tentang menjadi benar, melainkan tentang belajar tunduk dan jujur pada diri sendiri. Inspirasi utamanya berangkat dari konsep Tazkiyatun Nafs, yakni proses pemurnian jiwa. Gagasan ini selaras dengan pesan dalam Al-Qur’an, khususnya Surat Asy-Syams (91) ayat 9–10 dan Surat Al-A‘la (87) ayat 14, yang menegaskan bahwa keberuntungan sejati lahir dari keberanian membersihkan batin, bukan dari pengakuan eksternal.

Makna “Cahaya” dalam lagu ini pun tidak dimaknai sebagai simbol kesuksesan personal atau pencerahan instan. Cahaya adalah tujuan—sesuatu yang didekati, bukan dimiliki. Pemaknaan ini terinspirasi dari gambaran Cahaya Ilahi dalam Surat An-Nur ayat 35, sehingga liriknya tidak menonjolkan ego, melainkan menekankan proses perjalanan: melangkah tanpa nama, tanpa beban untuk dipuja.

Dari sisi musikal dan lirik, “Menuju Cahaya” disusun dengan pendekatan minimalis dan repetitif. Pengulangan lirik difungsikan layaknya doa yang diucapkan perlahan dan reflektif, menggambarkan bahwa pemurnian diri bukanlah peristiwa instan, melainkan proses berkelanjutan yang menuntut kesabaran dan kesadaran. Pada akhirnya, lagu ini bukanlah karya dakwah yang demonstratif, melainkan ruang perenungan—tentang manusia yang menyadari keterbatasannya, melepaskan pembenaran diri, dan tetap memilih berjalan perlahan namun jujur menuju Cahaya.

Yang membedakan “Menuju Cahaya” dari karya religi Marcell sebelumnya adalah balutan aransemen yang kental dengan nuansa elektronik. Eksplorasi ini menjadi langkah berani tanpa meninggalkan ruh spiritual yang menjadi fondasi lagu. “Saya sengaja melahirkan lagu ini dengan aransemen yang sedikit berbeda, tentunya tanpa kehilangan ruh-nya. Harapannya agar lagu ini bisa menjaring lebih banyak pendengar dari berbagai segmen yang lebih luas dan beragam. Siapapun mereka bisa memaknai musik dan lirik dari lagu ini tanpa harus menunggu momen-momen tertentu. Pemurnian diri adalah proses yang layak dirayakan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun,” tutupnya.