Flowery Hadir Membawa Warna Baru Symphonic Deep Gothic Metal Indonesia Lewat Album “Hold Me In The Storm”

Band symphonic deep gothic metal asal Jakarta, Flowery, resmi memperkenalkan identitas musikal mereka melalui debut album “Hold Me In The Storm.” Terbentuk pada 20 Mei 2025, Flowery hadir sebagai warna baru dalam skena metal Indonesia dengan konsep musik yang gelap, dramatis, namun tetap elegan dan sinematik.

Flowery lahir dari visi artistik serta kecintaan mendalam terhadap musik yang dibangun oleh pasangan suami-istri Vieya (vokal) dan Fire Man (sequencer sekaligus produser). Bagi mereka, Flowery bukan sekadar proyek band, melainkan perwujudan perjalanan emosional dan spiritual yang diterjemahkan melalui karya musik.

Karakter vokal Vieya yang kuat namun sarat nuansa melankolis menjadi salah satu identitas utama band ini. Vokal tersebut dipadukan dengan aransemen atmosferik racikan Fire Man yang memadukan orkestrasi simfonik, lapisan ambient yang dalam, serta dentuman metal yang intens. Hasilnya adalah lanskap suara yang terasa sinematik, dramatis, dan penuh emosi.

Formasi Flowery semakin solid dengan kehadiran Aby dan Bento sebagai vokalis tambahan. Kehadiran mereka memperkaya dimensi harmoni serta dinamika vokal, menciptakan dialog musikal yang memperkuat identitas gothic yang megah sekaligus intim. Perpaduan berbagai karakter vokal ini menjadi kekuatan utama Flowery dalam membangun atmosfer teatrikal dalam setiap karya mereka.

Sejak awal terbentuk, Flowery berkomitmen menghadirkan musik yang tidak hanya indah secara musikal, tetapi juga menyentuh sisi terdalam pendengarnya. Tema lirik yang mereka angkat banyak mengeksplorasi cinta, kehilangan, refleksi batin, hingga pencarian makna dalam gelapnya kehidupan. Bagi Flowery, musik adalah medium penyembuhan—sebuah ruang untuk merangkul luka sekaligus menemukan cahaya.

Memasuki babak penting dalam perjalanan mereka, Flowery resmi merilis debut album “Hold Me In The Storm” ke berbagai platform streaming digital pada 6 November 2025 di bawah naungan Edelweiss Records. Kehadiran album ini menandai langkah serius band tersebut dalam membangun karier musik ke level berikutnya sekaligus memperluas jangkauan pendengar hingga ke ranah internasional.

“Kadang badai datang tanpa permisi. Tapi ada pelukan yang membuat kita bertahan. Temukan kehangatan itu dalam Flowery – Hold Me In The Storm,” tulis Edelweiss Records dalam pernyataan resminya, menggambarkan pesan emosional yang menjadi benang merah album ini.

Sebagai bagian dari rangkaian promosi, video klip resmi lagu “Hold Me In The Storm” telah tayang perdana pada 25 Oktober 2025 di kanal YouTube Edelweiss Records. Visual tersebut memperkuat atmosfer gelap dan dramatis yang menjadi identitas Flowery, sekaligus menghidupkan narasi tentang ketahanan, cinta, dan harapan di tengah badai kehidupan.

Sebelum dirilis secara digital, Flowery juga terlebih dahulu menggelar peluncuran album fisik dalam format kaset dan CD pada 26 Oktober 2025 di New Kaliber. Acara yang berlangsung di kawasan Kota Tua Jakarta itu menghadirkan suasana meriah sekaligus emosional, mempertemukan komunitas metal, rekan musisi, serta para pendukung setia Flowery.

Dalam acara tersebut Flowery tampil bersama sejumlah musisi dan band metal lokal seperti PROSATANICA, TAHLILAN, NAMRUZ, dan CRAWL THE DARK, serta didukung oleh penampilan spesial dari Nino Trauma, Bento Prosatanica, dan Husein. Malam itu menjadi simbol kuat solidaritas dan semangat kolektif dalam skena metal Tanah Air.

Album “Hold Me In The Storm” sendiri diproduseri oleh Fire Man dan direkam di Core Studio, Tangerang. Album ini berisi delapan lagu yang disusun layaknya bab dalam sebuah cerita emosional—mengajak pendengar menyelami badai perasaan, konflik batin, hingga menemukan kehangatan di tengah gelapnya kehidupan.

Daftar Lagu “Hold Me In The Storm”:

  • Interlude
  • Hold Me In The Storm
  • Hati dan Jiwa
  • Unfair
  • Mojang Priangan
  • Engkang
  • Sampai Akhir Waktu
  • Warung Pojok (Outro)

Menariknya, dua lagu dalam album ini—“Engkang” dan “Mojang Priangan”—menghadirkan nuansa lokal Sunda yang kuat, terinspirasi dari karya musisi legendaris Yana Kustia dan Iyar Wiyarsih. Eksplorasi tersebut menunjukkan keberanian Flowery dalam memadukan identitas lokal dengan warna gothic metal modern.

Secara musikal, Flowery juga mengakui banyak terinspirasi oleh band symphonic metal dunia seperti Nightwish dan Within Temptation. Meski demikian, mereka tetap berusaha menjaga ciri khas tersendiri melalui sentuhan lokal serta atmosfer “deep symphonic” yang jarang ditemui di skena metal Indonesia.

“Secara musikalitas, Flowery mencoba menghadirkan karakter yang elegan, sinematik, dan emosional. Setiap lagu di Hold Me In The Storm menggambarkan perjalanan batin, cinta, kehilangan, hingga kekuatan untuk bangkit,” ujar sang vokalis, Vieya.

Selain merilis album, Flowery juga aktif memperkenalkan karya mereka melalui berbagai panggung musik, di antaranya Jakarta Hellground, Ciputat Bawah Tanah Reunion, hingga Parung Panjang Metal Fest 2026. Rangkaian penampilan tersebut menjadi bagian dari langkah strategis band ini dalam memperluas jangkauan audiens sekaligus memperkuat eksistensi mereka di kancah metal nasional.

Melalui “Hold Me In The Storm,” Flowery tidak hanya memperkenalkan identitas musikal mereka, tetapi juga menawarkan pengalaman emosional yang mendalam—sebuah perjalanan sonik yang merangkul kegelapan, namun tetap menyisakan cahaya di ujungnya