Kolaborasi Gitaris Shaggydog dengan Produser Grayce Soba Hasilkan Lagu “Gini-Gini Aja”

Musisi asal Yogyakarta, Richad Bernado, kembali merilis karya terbaru. Kali ini, gitaris band ska legendaris Shaggydog tersebut menggandeng produser sekaligus programmer musik Grayce Soba dalam sebuah single berjudul “Gini-Gini Aja”. Kolaborasi ini menghadirkan warna baru yang cukup kontras dari karakter musik Richad sebelumnya.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Bagi banyak orang, Richad Bernado dikenal sebagai gitaris Shaggydog. Namun di luar band, ia juga menjalankan proyek solo dengan pendekatan musik yang berbeda. Lewat label DoggyHouse Records, Richad telah merilis dua single bernuansa blues berjudul “Celengan Jago” dan “Cincin”.
Single “Celengan Jago” mengangkat memori masa kecil tentang kebiasaan menabung, dengan lirik sederhana namun nostalgik. Sementara “Cincin” hadir lebih romantis dan dirilis sebagai bagian dari kompilasi WOOF Live Session Vol. 1 pada 2023.

Grayce Soba sendiri dikenal sebagai pemilik dan programmer Soba Studio, sebuah studio musik yang aktif berkolaborasi dengan banyak musisi lintas disiplin. Selain bergerak di ranah produksi musik, Grayce juga terlibat dalam proyek unik seperti Mars Analog Research Station (VMARS) di kawasan Menoreh, Kulon Progo, bersama Venzha Christ dan Erix Soekamti. Dalam kariernya, ia telah menangani berbagai band, termasuk Shaggydog, sehingga pertemuannya kembali dengan Richad dalam proyek ini terasa natural.

Single “Gini-Gini Aja” dibuka dengan dentingan keyboard yang langsung menghadirkan suasana dancey. Beat upbeat, bassline synth yang dinamis, serta hook synth yang mudah melekat menjadi elemen utama lagu ini. Grayce Soba memberikan sentuhan house–disco yang mengilap namun tetap terasa proporsional. Chopping skank gitar elektrik hadir sebagai aksen funky, dipotong dengan filter dan delay untuk memperkaya tekstur lagu.

Menariknya, di balik musik yang mengajak berdansa, tema lagu justru membicarakan kehidupan usia 40-an yang perlahan terasa monoton. Aktivitas malam, pesta, dan hura-hura digambarkan bukan lagi sebagai pelarian, melainkan rutinitas. Richad menyampaikan kegelisahan tersebut lewat vokal baritonnya yang datar dan santai, seolah mencerminkan sikap setengah peduli namun jujur.

Richad mengungkapkan bahwa di usia 20-an, pesta terasa seperti jalan keluar, sementara di usia 40-an ia menjadi kebiasaan yang diterima apa adanya. Bukan untuk diratapi, melainkan disadari. Pendekatan ini membuat “Gini-Gini Aja” terasa relevan dan personal.

Dibandingkan dua single sebelumnya, Richad tampak keluar dari zona nyaman. Image cool dengan kemeja rapi dan gitar blues kini dilebur menjadi sosok yang lebih lepas, berdansa, dan menikmati malam. Hasilnya adalah potret musisi yang berani bereksperimen tanpa kehilangan kejujuran.

.

error: Content is protected !!