Musisi dan produser muda asal Bekasi Selatan, Chaeroel, resmi membuka babak baru dalam perjalanan karier musiknya melalui single terbaru berjudul “Cinta Pertama”. Lagu ini menjadi rilisan perdana Chaeroel setelah bergabung dengan Floor Inc., sub-label dari Sony Music Entertainment Indonesia, sekaligus menjadi langkah penting dalam memperkenalkan genre yang selama ini menjadi identitas musikalnya: Electrodut.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Menggabungkan energi musik elektronik dengan sentuhan dangdut yang khas, “Cinta Pertama” hadir sebagai karya yang menawarkan pengalaman mendengarkan yang unik. Lagu ini membawa emosi patah hati yang dekat dengan kehidupan banyak orang, namun dikemas dalam irama yang tetap mengajak pendengar untuk bergerak dan bergoyang.
Melalui liriknya, “Cinta Pertama” mengangkat kisah tentang seseorang yang merasa tidak pernah benar-benar dihargai dalam sebuah hubungan. Setelah memberikan perhatian, cinta, dan ketulusan, yang tersisa justru rasa kecewa dan luka. Cerita ini menggambarkan situasi ketika seseorang terus berusaha menjadi yang terbaik bagi pasangannya, namun tidak pernah mendapatkan perlakuan yang sama sebagai balasan.
“Lagu ini bercerita tentang seorang cowok yang tidak pernah diperlakukan spesial oleh pasangannya. Sebelum menjalin hubungan, pasangannya terus mengejar mantan yang tidak menghargainya. Saat bersama si cowok ini, yang tersisa justru hanya rasa sakit,” ungkap Chaeroel mengenai cerita di balik lagunya.
Meski mengangkat tema patah hati dan kekecewaan, Chaeroel tidak ingin lagunya terjebak dalam suasana yang terlalu muram. Sebaliknya, ia menghadirkan “Cinta Pertama” sebagai lagu galau yang tetap memiliki energi positif dan menyenangkan untuk dinikmati.
Dalam proses produksinya, Chaeroel menggandeng Kaila atau yang akrab disapa Kailol. Kolaborasi tersebut menghasilkan warna musik yang mampu mempertemukan elemen elektronik modern dengan nuansa dangdut secara seimbang.
Proses pengerjaan lagu ini memakan waktu sekitar satu bulan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Chaeroel adalah menemukan keseimbangan antara vokal dan beat agar keduanya dapat menyatu dengan sempurna.
“Tantangan terbesar waktu bikin lagu ini ada di proses mixing vocal dan beat. Aku harus memastikan semuanya sudah cocok dan enak didengar sehingga harus didengarkan berulang-ulang,” jelasnya.

Lewat “Cinta Pertama”, Chaeroel juga membawa misi yang lebih besar, yaitu memperkenalkan dan memperluas jangkauan genre Electrodut kepada penikmat musik Indonesia. Genre ini lahir dari kecintaannya terhadap musik EDM yang sempat mendominasi berbagai tangga lagu dunia, dipadukan dengan karakter dangdut yang sangat dekat dengan budaya musik Indonesia.
“Aku memang fokus ke genre ini. Aku yakin banyak orang yang rindu masa-masa EDM seperti yang dibawakan The Chainsmokers, Alan Walker, atau Marshmello. Tapi aku juga ingin memberikan sesuatu yang berbeda dengan menggabungkannya bersama musik dangdut. Dari situlah lahir Electrodut,” ujar Chaeroel.
Menurutnya, Electrodut memiliki karakter yang dekat dengan nuansa musik elektronik bergaya NCS (No Copyright Sounds) yang populer di berbagai platform digital dan sering dikenal masyarakat sebagai musik khas intro video YouTube. Namun, dengan tambahan elemen dangdut, genre ini memiliki identitas yang lebih lokal dan mudah diterima oleh pendengar Indonesia.
Bergabung dengan Floor Inc./Sony Music Entertainment Indonesia menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam perjalanan karier Chaeroel sejauh ini. Musisi kelahiran Bekasi, 9 November 2003 tersebut mengaku masih tidak menyangka dapat menjadi bagian dari label besar yang selama ini menjadi impiannya.
“Aku sangat senang dan masih nggak menyangka. Bisa bergabung ke label ini jelas nggak mudah karena butuh waktu dan tenaga yang panjang. Aku bersyukur bisa ada di titik ini dan akan terus berusaha membuat musik yang tidak mengecewakan para pendengar,” katanya.
Lebih jauh, Chaeroel berharap kehadirannya di industri musik dapat membantu memperkenalkan Electrodut kepada audiens yang lebih luas. Ia percaya bahwa genre ini memiliki potensi besar untuk berkembang dan menawarkan warna baru di tengah industri musik Indonesia yang semakin beragam.
Ke depan, Chaeroel berencana untuk terus mengeksplorasi genre ini melalui karya-karya berikutnya. Ia bahkan menyimpan harapan untuk bisa berkolaborasi dengan Tenxi, Dia, dan Naykilla, yang menurutnya memiliki karakter musik yang sangat cocok dengan dunia Electrodut.
Melalui “Cinta Pertama”, Chaeroel juga ingin menyampaikan pesan sederhana kepada para pendengarnya: bahwa patah hati tidak selalu harus dirayakan dengan kesedihan.
“Tetap joget segalau apa pun diri kita, karena kadang cuma itu yang bisa menyembuhkan kita dari patah hati,” tutupnya.
Dengan kombinasi emosi, energi, dan identitas musikal yang unik, “Cinta Pertama” menjadi langkah awal yang menjanjikan bagi Chaeroel dalam memperkenalkan Electrodut kepada penikmat musik Indonesia yang lebih luas.














