Palari Films Hadirkan Desember Jani, Film All Women Project tentang Perempuan dan Keluarga Lintas Generasi

Setelah merayakan satu dekade perjalanan kreatifnya, Palari Films kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk Desember Jani (Jani Be Good). Rumah produksi yang dikenal lewat berbagai film peraih penghargaan dan karya yang dekat dengan penonton Indonesia ini memperkenalkan proyek terbarunya sebagai sebuah All Women Project — film yang ditulis, diproduseri, disutradarai, hingga diperankan sepenuhnya oleh perempuan dari lintas generasi.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Film Desember Jani disutradarai oleh Ariani Darmawan, yang untuk pertama kalinya menggarap film panjang layar lebar sebagai debut feature-nya. Naskah film ini ditulis oleh Cyntha Hariadi, novelis dan penyair pemenang penghargaan yang juga menjalani debut sebagai penulis skenario film panjang.

Di kursi produser, Meiske Taurisia memimpin proyek ini bersama Muhammad Zaidy, memperkuat perspektif perempuan yang menjadi napas utama cerita. Kehadiran para sineas perempuan ini menjadikan Desember Jani bukan sekadar film keluarga, tetapi juga ruang kolaborasi yang menghadirkan suara perempuan secara utuh di depan maupun di balik layar.

Film ini turut menghadirkan deretan pemeran perempuan lintas generasi yang kuat dan penuh karakter. Dibintangi oleh Chempa Puteri, Sigi Wimala, Tutie Kirana, hingga debut layar lebar Hyori Mika, Desember Jani menyatukan energi dan pengalaman dari berbagai generasi perempuan Indonesia dalam satu kisah yang hangat dan emosional.

“Ini adalah film pertama Palari Films yang sangat perempuan. Seluruh pembuat hingga pemerannya adalah perempuan, dengan cerita yang juga sangat dekat dengan perempuan, terutama hubungan antara seorang ibu dan anak perempuan,” ujar produser Meiske Taurisia.

Desember Jani berkisah tentang tiga generasi perempuan dalam satu rumah yang perlahan kehilangan cara untuk saling bicara. Di tengah jarak emosional yang tumbuh dari waktu ke waktu, sosok Jani yang baru berusia 13 tahun justru memilih menjadi jembatan untuk menyatukan kembali keluarganya. Film ini mengangkat tema yang dekat dengan keseharian banyak keluarga Indonesia: hubungan antargenerasi, cinta yang hadir dalam diam, luka yang diwariskan tanpa disadari, dan keberanian untuk memulai kembali.

“Ini adalah proyek yang luar biasa. Bersama Palari Films, saya diberi ruang untuk mengeksplorasi gagasan kreatif dengan lebih leluasa. Bandung dipilih sepenuhnya sebagai latar film ini dan memiliki nilai sentimental tersendiri bagi saya. Bersama para pemeran perempuan di film ini, kami meramu kisah yang semoga bisa menghangatkan hati penonton menjelang akhir tahun nanti,” ujar sutradara Ariani Darmawan.

Keempat pemeran perempuan di film ini masing-masing membawa lapisan emosi yang berbeda. Tutie Kirana memerankan Oma Peggy, perempuan berusia 75 tahun yang menunjukkan kasih sayang lewat tindakan, bukan kata-kata. Sigi Wimala memerankan Winnie, seorang ibu yang menyimpan rasa bersalah yang tak pernah benar-benar terucap. Hyori Mika hadir sebagai Julia, anak sulung yang memilih pergi dari rumah karena merasa tak pernah didengar. Sementara Chempa Puteri memerankan Jani, remaja 13 tahun yang melihat retaknya keluarganya lebih jelas daripada siapa pun, lalu memilih menjadi orang pertama yang bergerak untuk memperbaikinya.

Bagi Sigi Wimala, yang cukup lama vakum dari layar lebar, keterlibatannya di film ini terasa seperti menemukan keluarga baru. “Kami diberi waktu yang cukup panjang untuk benar-benar berkumpul dan membangun hubungan sebagai sebuah keluarga. Semuanya tumbuh secara organik, tanpa dipaksa atau diburu-buru. Jadi saat proses syuting dimulai, rasa nyaman itu sudah benar-benar terbentuk,” ungkapnya.

Film ini juga menjadi tonggak baru bagi Chempa Puteri yang untuk pertama kalinya dipercaya menjadi pemeran utama. “Aku banyak latihan chemistry dengan Mama Sigi, Oma Tutie, Ibu Rani sebagai sutradara, dan Bu Dede sebagai produser. Aku belajar banyak dari orang-orang hebat di film ini dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga,” ujar Chempa Puteri.

Sementara itu, ada cerita menarik di balik proses pemilihan Hyori Mika. Sang sutradara pertama kali melihat kemampuan akting Hyori dalam sebuah iklan di kereta api. Tertarik dengan ekspresi dan emosinya, Ariani kemudian meminta tim casting untuk mencari Hyori hingga akhirnya dipercaya memerankan Julia di debut film panjangnya.

“Senang rasanya dipercaya memerankan Julia di film ini. Karakter seorang anak sulung yang memilih pergi dari rumah karena merasa tidak didengar. Film ini menjadi perjalanan awalku di dunia film, dan semoga karakter Julia juga bisa mewakili banyak orang yang sedang berjuang memahami boundaries dan mencari jati dirinya,” ujar Hyori Mika.

Kehadiran Tutie Kirana sebagai legenda perfilman Indonesia semakin memperkuat dinamika keluarga dalam cerita ini. Aktris yang telah berkarya sejak era 1970-an dan meraih lima nominasi Piala Citra FFI tersebut memerankan Oma Peggy sebagai sosok perempuan lanjut usia yang tetap mandiri dan berdaya lewat usaha lumpianya.

“Saya memerankan Oma Peggy, sosok yang sudah lanjut usia tetapi tetap menjalankan usaha lumpia. Menurut saya, perempuan memang harus tetap berdaya, bahkan ketika usia sudah tidak muda lagi. Di film ini, saya bekerja bersama perempuan-perempuan hebat yang masing-masing membawa kekuatan tersendiri, dan semuanya menyatu indah dalam ceritanya,” ujar Tutie Kirana.

Desember Jani dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada Desember 2026, tepat menjelang Hari Ibu pada 22 Desember. Momentum tersebut terasa begitu tepat untuk sebuah film yang berbicara tentang perempuan, keluarga, dan cinta yang terkadang membutuhkan waktu panjang untuk akhirnya menemukan suaranya.

error: Content is protected !!