Amalgama Kembali dengan “Fenomenon”: Delapan Tahun Berlalu, Kota Masih Gila

Delapan tahun mungkin terdengar seperti waktu yang cukup panjang untuk membuat sebuah persoalan menjadi usang. Namun bagi Amalgama, waktu justru membuktikan sebaliknya. Setelah terakhir merilis karya pada 2021, unit rock ini akhirnya kembali ke ruang publik lewat single terbaru bertajuk “Fenomenon”, sebuah lagu yang ditulis pada 2018 tetapi terasa seperti ditulis untuk membaca keadaan hari ini.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Resmi dirilis pada 4 September 2026 melalui kerja sama dengan label rekaman demajors, “Fenomenon” menjadi penanda kembalinya Amalgama setelah jeda panjang sekaligus membuka perjalanan menuju album perdana mereka, DEKADUS. Bagi band yang telah aktif sejak 2016 ini, comeback tersebut bukan sekadar upaya membangkitkan nostalgia, melainkan kesempatan untuk kembali menyuarakan kegelisahan yang ternyata tidak ikut hilang bersama berjalannya waktu.

Sejak baris pertama, “Fenomenon” langsung membuka percakapan yang terdengar sederhana tetapi menyimpan absurditas di dalamnya: “Bagaimana kota?” lalu dijawab dengan singkat, “Kujawab gila.” Dua kalimat tersebut menjadi pintu masuk menuju sebuah lagu tentang kota, manusia, dan kegilaan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Di sinilah kekuatan utama “Fenomenon” berada. Lagu ini mempertanyakan bagaimana manusia dapat hidup berdampingan dengan berbagai persoalan sampai akhirnya persoalan tersebut tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang mengejutkan. Berita pagi membawa masalah yang hampir serupa dari hari ke hari, kemacetan semakin menjadi bagian dari rutinitas, isu sosial terus berulang, media berjalan dengan kepentingannya masing-masing, sementara berbagai bentuk penderitaan terus muncul di hadapan masyarakat.

Yang seharusnya memicu kegelisahan justru perlahan menjadi pemandangan sehari-hari.

Ditulis oleh Surip pada 2018, “Fenomenon” lahir dari kegelisahan terhadap kondisi tersebut. Judulnya sendiri merupakan permainan kata antara “fenomena” dan “non-fenomena”, menggambarkan situasi ketika sesuatu yang seharusnya dianggap luar biasa justru kehilangan statusnya sebagai fenomena karena terlalu sering terjadi.

Dengan kata lain, kegilaan yang berulang pada akhirnya dapat terlihat normal.

Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan melalui lirik yang menghadirkan percakapan absurd antara manusia yang buta, tuli, dan bisu. Namun semakin lagu berjalan, batas antara “mereka” dan “kita” mulai menjadi semakin kabur.

“Sekarang aku yang bertanya / Apa lebih baik jadi mereka / Tak perlu lagi tuk melihat / Tak perlu lagi tuk mendengar.”

Pertanyaan tersebut menjadi semakin mengganggu karena tidak berhenti pada kemampuan manusia untuk melihat, mendengar, atau berbicara. Ada pertanyaan yang jauh lebih dalam: ketika seseorang sudah terlalu sering menyaksikan masalah, mendengar kabar buruk, dan melihat penderitaan, apakah yang sebenarnya hilang adalah kemampuan untuk mengetahui—atau justru kemampuan untuk merasa?

“Fenomenon” tidak menawarkan jawaban yang mudah. Amalgama justru membiarkan pertanyaan tersebut menggantung dan mengarahkannya kembali kepada pendengar.

Secara musikal, Amalgama tetap berpijak pada karakter rock yang menjadi fondasi mereka. Namun identitas tersebut tidak berdiri sendiri. Band ini kembali membawa instrumen tradisional sebagai bagian dari eksplorasi bunyi mereka, salah satunya melalui penggunaan taganing, instrumen tradisional dari Sumatera Utara yang dipertemukan dengan permainan drum untuk membangun karakter ritmis yang kuat.

Perpaduan tersebut memperlihatkan bagaimana Amalgama berusaha mempertemukan energi musik rock dengan elemen tradisi tanpa menjadikannya sekadar ornamen. Instrumen tradisional justru menjadi bagian dari identitas musikal yang membentuk atmosfer “Fenomenon”.

Amalgama sendiri saat ini diperkuat oleh lima personel, yakni Surip pada vokal dan gitar akustik, Khozin pada drum, Nino Bukir pada perkusi dan alat tiup tradisi, Arigetoy pada bass elektrik, serta Johnyfrequency pada gitar elektrik.

Menariknya, meski Surip merupakan vokalis utama Amalgama, posisi vokal utama dalam “Fenomenon” justru diberikan kepada Nino Bukir. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Karakter vokal Nino yang lantang, tajam, dan menonjok dinilai lebih mampu menerjemahkan energi serta kegelisahan yang ingin disampaikan lagu.

Suara Nino tidak hadir untuk memberikan kenyamanan.

Sebaliknya, vokal tersebut menjadi bagian dari gangguan yang sengaja dibangun Amalgama. Ia membawa pendengar masuk ke dalam kegelisahan lagu, seolah memaksa mereka untuk tidak sekadar mendengarkan, tetapi ikut berhadapan dengan persoalan yang sedang dibicarakan.

Perjalanan produksi “Fenomenon” juga menjadi cerita tersendiri. Lagu ini ditulis pada 2018, kemudian direkam pada 2021, menjalani proses mixing pada 2023, dan akhirnya menyelesaikan tahap mastering pada 2026.

Artinya, ada rentang waktu delapan tahun sejak ide awal lagu tersebut ditulis hingga akhirnya benar-benar dilepas kepada publik.

Ironisnya, lagu yang berbicara tentang bagaimana manusia menjadi terbiasa terhadap berbagai persoalan justru membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya sampai ke telinga pendengar.

Namun justru di situlah “Fenomenon” menemukan relevansinya.

Delapan tahun berlalu, tetapi banyak hal yang dibicarakan lagu ini masih terasa dekat. Kota tetap bising. Persoalan sosial terus berulang. Informasi datang tanpa henti. Manusia terus melihat berbagai peristiwa melalui layar, mendengar berbagai kabar setiap hari, lalu kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah kita tahu apa yang sedang terjadi.

Kita mungkin tahu.

Persoalannya adalah apakah kita masih peduli.

Apakah kita masih terganggu?

Apakah kita masih mampu merasa?

“Fenomenon” menjadi langkah pertama Amalgama setelah jeda panjang sekaligus single pembuka menuju DEKADUS, album perdana yang akan menjadi babak berikutnya dalam perjalanan mereka. Kembalinya Amalgama kali ini terasa seperti sebuah pernyataan bahwa jeda tidak selalu berarti berhenti. Ada gagasan yang tetap hidup, bahkan ketika membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukan bentuk akhirnya.

Dan mungkin, Amalgama memang tidak kembali untuk memberikan jawaban.

Mereka kembali untuk mengulang sebuah pertanyaan yang justru terasa semakin sulit dihindari: apakah lebih baik menjadi mereka—tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak bersuara?

Sebab pada akhirnya, hal paling mengganggu dari “Fenomenon” bukanlah pernyataan bahwa kota masih gila.

Melainkan kenyataan bahwa delapan tahun setelah lagu ini ditulis, kita masih bisa mengatakan hal yang sama.

Single “Fenomenon” resmi tersedia mulai 4 September 2026 di berbagai platform streaming digital, termasuk Spotify, YouTube Music, TikTok Music, Apple Music, dan Langit Musik.

“Fenomenon” menjadi pintu pertama menuju DEKADUS. Dan setelah delapan tahun, Amalgama kembali mengetuk pintu yang mungkin selama ini sengaja kita tutup: pintu untuk melihat, mendengar, dan—yang paling penting—kembali merasa.

error: Content is protected !!