JINAN LAKEISHA ANGKAT KISAH CINTA TRAGIS GUSTI PEMBAYUN DAN KI AGENG MANGIR LEWAT “MERANA DI ATAS CAHAYA”

Bagaimana rasanya mencintai seseorang yang sejak awal sudah ditakdirkan untuk kehilanganmu? Pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat “Merana di Atas Cahaya”, single terbaru penyanyi sekaligus penulis lagu Jinan Lakeisha yang dirilis melalui label rekaman demajors.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Mengambil inspirasi dari kisah cinta tragis Gusti Pembayun dan Ki Ageng Mangir dalam sejarah Kerajaan Mataram, Jinan menghadirkan sebuah karya yang tidak sekadar bercerita tentang percintaan, tetapi juga menggali pergulatan batin seorang perempuan yang berada di antara cinta, kesetiaan, kebohongan, dan takdir.

“Merana di Atas Cahaya” menjadi upaya Jinan untuk melihat kembali salah satu kisah sejarah Indonesia melalui perspektif yang lebih personal dan emosional. Alih-alih hanya menempatkan kisah Gusti Pembayun dan Ki Ageng Mangir sebagai bagian dari catatan sejarah, Jinan mencoba membayangkan bagaimana perasaan seseorang yang harus mencintai di tengah sebuah rahasia besar yang pada akhirnya berpotensi menghancurkan hubungan tersebut.

Kisah tersebut kemudian diterjemahkan Jinan melalui musik yang intim, puitis, sekaligus sinematik. Piano menjadi elemen utama yang membangun atmosfer lagu, sementara permainan cello dari musisi asal Yogyakarta, Dimawan Krisnowo Adjie, memberikan lapisan emosional yang semakin memperkuat suasana tragis di dalamnya.

Menariknya, seluruh komposisi dan lirik “Merana di Atas Cahaya” ditulis sendiri oleh Jinan. Untuk proses produksi, Jinan menggandeng Danny Ardiono, yang juga bertanggung jawab dalam proses mixing dan mastering. Kolaborasi tersebut menghasilkan sebuah karya yang memberi ruang luas bagi karakter vokal Jinan untuk menyampaikan cerita tanpa kehilangan kekuatan dari aransemen musiknya.

“Saya menulis lagu ini karena saya benar-benar tertarik dengan kisah Ki Ageng Mangir dan Gusti Pembayun. Yang paling membuat saya tersentuh adalah sudut pandang Pembayun. Apakah bisa dibayangkan, bagaimana rasanya jatuh cinta dengan seseorang, tapi setiap hari harus terus menyimpan kebohongan yang akhirnya bakal menghancurkan orang yang kita sayang?” ujar Jinan.

Menurut Jinan, kisah tersebut memiliki kekuatan emosional yang besar karena berbicara mengenai konflik yang sangat manusiawi. Perasaan cinta tidak selalu hadir dalam situasi yang ideal. Ada kalanya seseorang harus berhadapan dengan pilihan sulit ketika perasaan pribadi bertabrakan dengan tanggung jawab, kesetiaan, ataupun sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Melalui “Merana di Atas Cahaya”, Jinan berharap kisah Gusti Pembayun dan Ki Ageng Mangir dapat kembali dikenal oleh generasi pendengar yang lebih luas. Baginya, sejarah Indonesia memiliki banyak cerita yang memiliki kekuatan emosional dan dramatis, namun belum semuanya mendapatkan ruang untuk diceritakan kembali melalui medium musik.

“Saya harap lewat lagu ini, lebih banyak orang bisa mengenal kisah cinta dari sejarah Indonesia yang tak kalah indah namun tragis, juga menyentuh dibanding cerita-cerita yang selama ini lebih sering kita dengar,” lanjutnya.

Secara musikal, “Merana di Atas Cahaya” memperlihatkan karakter Jinan yang tumbuh dari latar belakang musik klasik. Lahir di Makassar dari ayah berdarah Bugis dan ibu berdarah Jawa, Jinan telah bersentuhan dengan musik sejak usia dini. Pendidikan piano klasik yang ia jalani kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk cara pandangnya terhadap musik.

Bahkan sejak berusia enam tahun, Jinan sudah mulai menulis komposisi sekaligus liriknya sendiri. Kebiasaan tersebut berkembang seiring perjalanan musikalnya hingga akhirnya ia menemukan bentuk ekspresi yang memadukan pendekatan musik klasik dengan penulisan lagu yang puitis.

Karakter tersebut menjadi salah satu kekuatan dalam karya-karya Jinan. Ia tidak hanya menjadikan musik sebagai medium untuk menyampaikan melodi dan cerita, tetapi juga mengeksplorasi struktur musikal serta pilihan kata untuk menciptakan pengalaman yang lebih emosional bagi pendengarnya.

Dalam profil musikalnya, Jinan dikenal sebagai rising singer-songwriter yang menawarkan warna tersendiri di tengah perkembangan musik Indonesia. Ia memadukan genre artsong dan pop kontemporer dengan sentuhan Indonesiana yang tetap menjadi bagian penting dari identitasnya.

Karakter vokalnya yang lembut dan khas berpadu dengan pendekatan penulisan lirik yang puitis serta eksplorasi progresi musik yang kompleks dan tidak konvensional. Pendekatan tersebut membuat “Merana di Atas Cahaya” terasa seperti pertemuan antara musik, sastra, dan kisah sejarah yang diterjemahkan ke dalam pengalaman personal.

Lebih dari sekadar sebuah single, “Merana di Atas Cahaya” juga menjadi langkah awal menuju perjalanan Jinan berikutnya. Lagu ini diposisikan sebagai pembuka menuju EP perdana Jinan Lakeisha yang akan hadir dalam waktu dekat.

Dengan karya tersebut, Jinan menunjukkan bahwa kisah sejarah dapat terus menemukan bentuk baru untuk diceritakan. Sebuah kisah yang telah berlangsung ratusan tahun dapat kembali terasa dekat ketika diterjemahkan melalui emosi yang universal: mencintai, menyimpan rahasia, takut kehilangan, dan menghadapi kenyataan bahwa tidak semua cinta memiliki akhir yang bahagia.

“Merana di Atas Cahaya” resmi tersedia di seluruh platform streaming digital mulai 28 Agustus 2026, termasuk Spotify, YouTube Music, TikTok Music, Apple Music, dan Langit Musik.

Bagi Jinan Lakeisha, lagu ini bukan hanya tentang Gusti Pembayun dan Ki Ageng Mangir. Lebih jauh, “Merana di Atas Cahaya” adalah ruang untuk mempertanyakan kembali arti cinta ketika seseorang harus berhadapan dengan takdir yang tidak bisa dikendalikan. Sebuah kisah lama yang kembali dinyanyikan dengan bahasa musik yang lebih personal, intim, dan relevan bagi pendengar masa kini.

error: Content is protected !!