Suasana hangat, penuh haru, dan rasa kekeluargaan menyelimuti sebuah kunjungan khusus yang diinisiasi oleh Brothersphere Jakarta kepada Superglad, salah satu band rock yang memiliki perjalanan panjang dalam sejarah musik Indonesia. Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarmusisi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang sekaligus memberikan penghormatan kepada mendiang Dadi Yudistira Pringgohadi (1979–2026), mantan gitaris Superglad yang meninggalkan jejak penting dalam perjalanan band maupun lingkaran musik yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kunjungan Brothersphere Jakarta ini menjadi bentuk apresiasi terhadap perjalanan, persahabatan, serta kontribusi Dadi Yudistira dalam dunia musik. Dalam suasana yang penuh keakraban, para musisi dan sahabat berbagi cerita mengenai perjalanan karier, pengalaman bermusik, hingga berbagai kenangan yang pernah dilalui bersama almarhum.
Momentum tersebut juga berkaitan dengan “Kemarin, Hari Ini, Selamanya”, sebuah tribute yang digelar Superglad untuk mengenang sosok Dadi Yudistira. Tribute ini menjadi ruang pertemuan bagi para musisi, seniman, sahabat, dan rekan kolaborasi yang pernah memiliki hubungan erat dengan perjalanan musikal almarhum.
Dalam tribute tersebut, Superglad berbagi panggung bersama sejumlah nama dari berbagai latar belakang musik dan seni, di antaranya Jimmy Multhazam, Eet Sjahranie, Dedi Lisan, Eka Annash, Acica Robokop, Rey Marshall, Melanie Subono, Ombags, Orkes Nunung CS, dan Tenholes. Kehadiran mereka menjadi representasi dari luasnya pergaulan musikal Dadi sekaligus menunjukkan bagaimana karya dan hubungan personal yang dibangunnya selama hidup terus menemukan tempat di hati banyak orang.
Bagi Superglad dan orang-orang terdekatnya, Dadi bukan hanya dikenang sebagai seorang gitaris. Ia juga dikenal sebagai musisi dan songwriter yang memiliki karakter kuat serta kontribusi tersendiri dalam perjalanan musik yang ia jalani. Kariernya memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan Superglad sejak masa-masa awal terbentuknya band tersebut hingga akhirnya Dadi memutuskan untuk mundur pada 2019.
Di luar Superglad, Dadi juga pernah terlibat dalam kolektif musik The Chronicles Of Happiness Ride And Services. Berbagai perjalanan tersebut memperlihatkan luasnya eksplorasi dan relasi musikal yang ia bangun selama hidupnya.
Bagi Brothersphere Jakarta, kunjungan ini tercetus dari kerinduan mendalam sekaligus keinginan untuk memberikan apresiasi secara nyata terhadap karya, persahabatan, dan warisan musikal yang ditinggalkan oleh almarhum. Silaturahmi tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan yang lahir dari musik tidak berhenti ketika sebuah perjalanan berakhir.
“Bagi kami, Dadi bukan sekadar seorang musisi yang handal di atas panggung, melainkan figur sahabat dan bagian dari keluarga besar. Energi positifnya selalu dirasakan oleh banyak orang yang pernah berinteraksi dan berjalan bersamanya,” ungkap perwakilan Brothersphere Jakarta.
Lebih dari sekadar sebuah kunjungan, pertemuan ini menjadi simbol bahwa musik memiliki kekuatan untuk mempertemukan kembali orang-orang, membuka ruang untuk berbagi cerita, sekaligus menjaga kenangan tetap hidup. Di tengah perjalanan waktu, karya dan jejak yang ditinggalkan seorang musisi dapat terus menjadi bagian dari kehidupan orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya.
“Kemarin, Hari Ini, Selamanya” pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Ia menjadi cara untuk merayakan perjalanan Dadi, menghargai karya yang telah ditinggalkan, serta menjaga semangat dan persahabatan yang pernah ia bangun bersama orang-orang di sekelilingnya.
Karena bagi mereka yang pernah mengenal dan berjalan bersama Dadi, kemarin tetap menjadi kenangan, hari ini menjadi penghormatan, dan selamanya menjadi bagian dari cerita.















