Setelah memperkenalkan identitas musikalnya melalui album debut yang mendapat perhatian di skena independen, seniman hiphop asal Medan kembali membuka lembaran baru dalam perjalanan kreatifnya lewat album kedua bertajuk MONSTERA. Hadir dengan pendekatan yang lebih matang dan personal, album ini tidak sekadar menjadi kelanjutan dari karya sebelumnya, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang perjalanan batin, cinta, kehilangan, pertumbuhan, serta bagaimana manusia belajar bertahan menghadapi sunyi di tengah kehidupan yang terus bergerak.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Nama MONSTERA diambil dari tanaman monstera yang dikenal tumbuh merambat dan mencari arah menuju cahaya. Karakter tersebut kemudian menjadi metafora utama bagi perjalanan manusia yang terus bergerak, meski tidak selalu berada dalam kondisi yang mudah. Seperti tanaman yang membutuhkan ruang untuk tumbuh, manusia pun membutuhkan proses untuk mengenali dirinya sendiri, memahami luka, mencintai dengan lebih jujur, dan pada akhirnya belajar berdamai dengan berbagai hal yang tidak bisa selalu dipertahankan.
Gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam 13 lagu yang membentuk sebuah perjalanan emosional dari awal hingga akhir. MONSTERA bergerak di antara beat hiphop yang groovy, harmoni jazz yang lembut, serta sentuhan soul yang hangat dan intim. Perpaduan tersebut menciptakan atmosfer yang terasa earthy, organik, dan dekat dengan pengalaman personal, seolah pendengar diajak masuk ke sebuah ruang kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan modern.
Di tengah perkembangan musik yang semakin cepat, bising, dan sering kali menuntut sesuatu yang instan, MONSTERA justru mengambil jalan yang berbeda. Album ini memilih untuk berjalan lebih pelan. Tidak terburu-buru mengejar ledakan atau sekadar menghadirkan musik sebagai konsumsi cepat, MONSTERA mengajak pendengar untuk kembali memperhatikan hal-hal sederhana yang sering terlewatkan dalam keseharian.
Pagi yang sunyi, percakapan sederhana, perjalanan malam, udara dingin, ruang sempit, hingga perasaan kehilangan yang tumbuh secara perlahan menjadi bagian dari dunia yang dibangun dalam album ini. Semua pengalaman tersebut diperlakukan sebagai bagian penting dari proses menjadi manusia.

“MONSTERA adalah tentang pertumbuhan. Tentang bagaimana manusia terus merambat mencari cahaya, meski berkali-kali patah. Album ini lahir dari proses menerima diri sendiri, mencintai dengan jujur, dan belajar melepaskan,” ujar Raihan mengenai gagasan besar di balik album keduanya.
Secara musikal, MONSTERA juga memperlihatkan perkembangan yang cukup signifikan dibandingkan karya sebelumnya. Produksi album terasa lebih matang dengan pemanfaatan live instruments, tekstur analog, permainan drum yang hangat, bass yang membumi, serta lapisan soul dan jazz yang memperkaya atmosfer setiap lagu.
Hiphop dalam MONSTERA tidak ditempatkan sebagai medium yang agresif atau penuh ledakan. Sebaliknya, genre tersebut digunakan sebagai ruang untuk bertutur. Rap dan elemen hiphop menjadi cara untuk menyampaikan pengalaman personal dengan pendekatan yang lebih intim, reflektif, dan dekat dengan keseharian.
Pendekatan produksi tersebut membuat setiap elemen dalam album terasa memiliki ruangnya masing-masing. Groove tetap menjadi bagian penting, tetapi tidak mengambil alih keseluruhan narasi. Harmoni jazz memberikan kelembutan, sementara karakter soul memperkuat sisi emosional yang menjadi salah satu fondasi utama album.
Di balik keseluruhan proses kreatif MONSTERA, terdapat sejumlah produser yang ikut membangun warna sonik album, di antaranya Jon, Raihan, Vhanz, YOSH, dan Dirayha. Jon juga memegang peran sebagai sound engineer sekaligus produser utama yang membantu menjaga agar identitas sonik MONSTERA tetap konsisten dari lagu pembuka hingga penutup.
Keterlibatan Jon menjadi salah satu bagian penting dalam mempertahankan karakter album yang hangat dan organik. Dengan pendekatan produksi yang memperhatikan tekstur, dinamika, dan detail instrumen, MONSTERA mampu menghadirkan pengalaman mendengar yang terasa menyatu meski setiap lagunya memiliki karakter emosional masing-masing.
Album ini dibuka melalui “Pangkal (Intro)”, sebuah pembuka yang menjadi titik awal perjalanan. Dari sana, pendengar dibawa melewati berbagai fragmen cerita yang hadir melalui lagu-lagu seperti “Matilda”, “Monstera”, dan “Pesulap Lumbricina”.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju “Ruah” yang menghadirkan kolaborasi bersama Nartok, sebelum masuk ke “Surat”, “Malam-malam Suhu Es”, dan “Pasemon”. Di bagian berikutnya, MONSTERA kembali memperluas warna vokal dan narasinya melalui kolaborasi bersama Puan Nahya dalam “Puan” serta Dande dalam “Gelas”.
Dua lagu, “Pagi-pagi Ruang Sempit” dan “Terbawa Angin”, kemudian membawa perjalanan tersebut menuju fase yang lebih reflektif sebelum akhirnya ditutup dengan “Ujung (Outro)”.
Tracklist MONSTERA:
- Pangkal (Intro)
- Matilda
- Monstera
- Pesulap Lumbricina
- Ruah (ft. Nartok)
- Surat
- Malam-malam Suhu Es
- Pasemon
- Puan (ft. Puan Nahya)
- Gelas (ft. Dande)
- Pagi-pagi Ruang Sempit
- Terbawa Angin
- Ujung (Outro)
Jika didengarkan sebagai sebuah kesatuan, 13 lagu tersebut terasa seperti potongan-potongan jurnal personal. Masing-masing memiliki cerita dan emosinya sendiri, tetapi tetap terhubung dalam satu perjalanan besar mengenai pertumbuhan dan penerimaan diri.
“Pangkal” menjadi titik keberangkatan yang kontemplatif, sementara “Ruah” membawa energi emosi yang lebih meluap. Di sisi lain, “Ujung” berfungsi sebagai penutup yang terasa seperti sebuah titik penerimaan setelah perjalanan panjang. Ketiganya membantu membentuk struktur emosional album, dari awal pencarian hingga sampai pada fase ketika seseorang mulai menerima apa yang telah dilalui.
Kolaborasi dengan Nartok, Puan Nahya, dan Dande juga memberikan dimensi berbeda terhadap perjalanan tersebut. Kehadiran mereka tidak sekadar ditempatkan sebagai featuring, tetapi menjadi bagian dari narasi yang lebih besar di dalam semesta MONSTERA. Karakter masing-masing kolaborator ikut memperluas spektrum emosi tanpa membuat identitas utama album kehilangan arahnya.
Pada akhirnya, MONSTERA bukan hanya sebuah album hiphop. Ia adalah sebuah ruang. Ruang untuk berhenti sejenak ketika kehidupan terasa terlalu ramai, ruang untuk mengingat hal-hal kecil yang sering terlupakan, sekaligus ruang untuk berdamai dengan diri sendiri.
Album ini terasa cocok menemani berbagai momen sederhana: pagi yang berjalan lambat, perjalanan malam yang panjang, duduk sendirian setelah hari yang melelahkan, atau ketika seseorang hanya ingin menutup dunia untuk sementara dan mendengarkan isi kepalanya sendiri.
Seperti tanaman monstera yang terus merambat mencari cahaya, album ini juga berbicara tentang manusia yang tidak pernah benar-benar berhenti tumbuh. Ada patah, ada kehilangan, ada cinta, ada keheningan, tetapi semuanya menjadi bagian dari proses menuju sesuatu yang lebih utuh.
MONSTERA kini telah tersedia dan dapat didengarkan di seluruh platform musik digital. Bagi pendengar yang sedang mencari musik dengan atmosfer hangat, organik, dan reflektif, album kedua ini menawarkan sebuah perjalanan yang tidak hanya untuk didengar, tetapi juga untuk dirasakan.















