Setelah sukses menggelar Secret Gigs “Arena Pacuan Black Horses Berkuda di Neraka” pada 19 Juni 2026, Black Horses kembali membawa energi liar dari panggung tersebut melalui rangkaian 11 video lirik live yang menampilkan lagu-lagu dari album ketiga mereka, Jahanam. Direkam secara langsung dalam atmosfer Secret Gigs tersebut, rangkaian video ini menjadi perpanjangan dari apa yang terjadi di atas panggung: suara yang mentah, distorsi yang berisik, riff gitar yang tebal, dentuman drum yang menghantam, serta energi empat personel Black Horses yang memang tidak dibuat untuk duduk manis.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Mulai 28 Agustus hingga 2 Oktober 2026, Black Horses akan merilis rangkaian video lirik live tersebut secara bertahap. Setiap video membawa pendengar kembali ke atmosfer Arena Pacuan sekaligus memperlihatkan bagaimana materi Jahanam mendapatkan bentuk yang berbeda ketika dimainkan secara langsung di hadapan para “Kusir-Kusir”, sebutan bagi para pendengar dan penggemar Black Horses.
Bagi Black Horses, format live bukan sekadar cara untuk mendokumentasikan penampilan. Ada energi, spontanitas, dan kekacauan tertentu yang hanya bisa muncul ketika sebuah lagu dimainkan langsung di atas panggung. Karena itu, 11 video lirik ini menjadi cara mereka untuk mempertahankan karakter tersebut sekaligus membawa pengalaman Arena Pacuan kepada pendengar yang tidak sempat hadir secara langsung.
Jahanam sendiri merupakan album ketiga Black Horses sekaligus menjadi fase baru dalam perjalanan musikal mereka. Album ini menjadi rilisan pertama Black Horses yang seluruh liriknya menggunakan bahasa Indonesia. Di bawah naungan FireFly Records, Black Horses menyampaikan berbagai kegelisahan, kemarahan, pengalaman, sindiran, serta pandangan terhadap kehidupan melalui bahasa yang terasa lebih dekat, lugas, dan langsung kepada pendengarnya.
Black Horses yang diperkuat oleh Oscario (vokal), Kevin Indriawan (gitar), Lucky Azhary (bass), dan Julian Aditya (drum), kembali bekerja bersama John Paul Patton alias Coki—musisi dan produser yang dikenal melalui kiprahnya bersama Kelompok Penerbang Roket, Ali, dan Portura—sebagai produser album Jahanam. Kolaborasi tersebut turut membentuk karakter album yang tetap mempertahankan akar musikal Black Horses, namun hadir dengan pendekatan yang lebih matang.
Secara musikal, Jahanam masih berdiri di atas fondasi yang selama ini menjadi identitas Black Horses: raw sound, riff blues yang tebal, distorsi berat, groove yang menghantam, serta semangat live band yang terasa lebih penting daripada sekadar mengejar kesempurnaan produksi. Karakter tersebut semakin terasa ketika seluruh materi dibawakan secara langsung. Suara gitar yang tebal, bass yang mengisi ruang, pukulan drum yang agresif, dan vokal yang terdengar tanpa banyak kompromi menjadi satu kesatuan yang membuat lagu-lagu Jahanam terasa hidup.
Sebelas video lirik live tersebut akan dirilis dengan jadwal yang telah disiapkan. Rangkaian dimulai pada 28 Agustus 2026 melalui lagu Jahanam, kemudian dilanjutkan dengan Mawar Api pada 2 September, Berkuda di Neraka pada 4 September, Peduli Setan pada 9 September, Manusia Setengah Kuda pada 11 September, Makan Tuan pada 16 September, On the Rocks pada 18 September, Ashes pada 23 September, Jejak Waktu pada 25 September, Tirani Tua pada 30 September, dan ditutup dengan Distorsi Menggema pada 2 Oktober 2026.
Rangkaian tersebut membawa pendengar menyusuri berbagai sisi Jahanam, mulai dari amarah, kegelisahan, sindiran, kekacauan, hingga refleksi yang muncul dari pengalaman hidup sehari-hari. Di balik suara yang keras dan lirik yang terdengar tanpa basa-basi, Black Horses tidak datang untuk menggurui. Jahanam justru dibangun sebagai ruang untuk berbagi rasa dan pengalaman, sekaligus memberikan kebebasan kepada pendengar untuk menemukan makna mereka sendiri dari setiap lagu.
Bagi Black Horses, kebebasan bukan sekadar kata yang diteriakkan di atas panggung. Kebebasan adalah keberanian untuk menentukan sikap ketika seseorang masih memiliki kesempatan untuk melakukannya.
“Kebebasan itu ada dan nyata. Selama masih punya nyawa, maka beranilah mengambil sikap. Karena sikap yang kita ambil hari ini punya pengaruh bagi anak-cucu kita di kemudian hari.”
Gagasan tersebut menjadi salah satu semangat yang mengiringi perjalanan Jahanam. Black Horses tidak menawarkan satu jawaban mutlak kepada pendengarnya. Mereka membuka ruang agar setiap orang dapat mendengarkan, merasakan, dan menerjemahkan lagu-lagu tersebut berdasarkan pengalaman mereka masing-masing.
Panggung bagi Black Horses pun bukan sekadar tempat untuk memainkan lagu. Di sanalah sebuah lagu mendapatkan bentuk lain melalui interaksi dengan para pendengarnya. Apa yang sebelumnya hanya terdengar melalui rekaman dapat berubah ketika dimainkan di hadapan penonton. Riff terasa lebih berat, lirik terdengar lebih dekat, dan energi sebuah lagu dapat berkembang menjadi sesuatu yang berbeda ketika dibagikan bersama.
Karena itu, kehadiran 11 video lirik live Jahanam bukan sekadar dokumentasi dari sebuah Secret Gigs. Rangkaian ini merupakan cara Black Horses untuk mempertahankan energi dan kekacauan yang menjadi bagian dari DNA mereka, sekaligus membawa kembali atmosfer “Arena Pacuan Black Horses Berkuda di Neraka” kepada para Kusir-Kusir di mana pun mereka berada.
Dari Arena Pacuan, energi itu kini berpindah ke layar. Dari panggung, kembali kepada para Kusir-Kusir. Dan dari satu video ke video berikutnya, Jahanam perlahan membuka seluruh isinya.
Black Horses tidak datang membawa jawaban. Mereka hanya membuka pintu, menyalakan ampli, menaikkan volume, lalu mengajak para Kusir-Kusir untuk masuk dan merasakan sendiri apa yang terjadi ketika empat Black Horses kembali berkuda.
Seluruh rangkaian video lirik live dari album Jahanam dapat disaksikan melalui Official YouTube Channel FireFly Records.
Jahanam sudah dimulai.
Kusir-Kusir, siap berkuda?















