Temaram Rilis “Tiamut”, Single Eksploratif yang Berangkat dari Marvel Universe dan Jadi Gerbang Menuju Album Ketiga

Temaram kembali membuka babak baru dalam perjalanan musikalnya melalui single terbaru bertajuk “Tiamut”. Mengambil inspirasi dari salah satu karakter dalam Marvel Universe, rilisan ini menjadi salah satu bentuk eksplorasi terbaru Temaram dalam memperluas wilayah musikal sekaligus memperkaya gagasan visual yang selama ini menjadi bagian dari identitas mereka.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Temaram merupakan kolektif yang telah cukup diperhitungkan dalam peta musik cadas Indonesia. Konsistensi yang dibangun oleh Yudha Nugraha (gitar), Nugraha Adam (drum), dan Iqbal Tawakkal (gitar) selama hampir satu dekade membuat mereka terus menemukan ruang untuk berkembang. Kiprah tersebut juga membawa nama Temaram tercatat dalam Encyclopaedia Metallum: The Metal Archives, basis data ensiklopedia musik metal dunia, sebagai grup yang berada dalam spektrum stoner/doom metal.

Namun, bagi Temaram, identitas bukanlah sesuatu yang harus membatasi perjalanan kreatif. Setelah hampir satu dekade mengeksplorasi musik cadas, mereka justru semakin tertarik untuk menjelajah kemungkinan baru, baik secara musikal maupun visual. “Tiamut” menjadi salah satu hasil dari penjelajahan tersebut.

“Tiamut adalah salah satu karakter yang diambil dari kecintaan kami terhadap film dan komik Marvel,” terang Yudha Nugraha.

Dalam Marvel Universe, Tiamut dikenal sebagai salah satu karakter Celestial yang memiliki peran penting dalam mitologi kosmik Marvel. Ketertarikan Temaram terhadap karakter tersebut kemudian tidak berhenti pada aspek visual maupun narasi semata. Mereka mencoba mengambil gagasan, tema, dan karakter Tiamut untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa musik melalui abstraksi pengalaman mereka sendiri.

Proses tersebut menghasilkan sebuah komposisi yang membawa Temaram ke wilayah yang sedikit berbeda dari karya-karya sebelumnya. Mereka tetap mempertahankan fondasi loud instrumental doom yang selama ini menjadi bagian dari karakter musiknya, tetapi mulai memperluas tekstur melalui pendekatan yang bersinggungan dengan post-metal dan berbagai eksplorasi lainnya.

“Lagu ini menjadi sebuah perubahan konsep art dan musik Temaram itu sendiri. Masih dengan gaya loud instrumental doom, tapi kami kembangkan dengan menambah gaya ke post-metal atau sejenisnya,” ujar Nugraha Adam.

Perubahan tersebut tidak hanya terdengar melalui musik. “Tiamut” juga menjadi bagian dari evolusi visual Temaram. Bagi mereka, musik dan visual merupakan dua elemen yang dapat berjalan berdampingan untuk membangun sebuah dunia yang lebih utuh. Karena itu, single ini dirancang bukan hanya untuk didengarkan, tetapi juga untuk memberikan pengalaman visual yang memperkuat gagasan di balik musiknya.

“Tiamut” memiliki posisi khusus dalam perjalanan Temaram karena rilisan ini diproyeksikan menjadi salah satu pintu menuju album ketiga mereka. Dengan kata lain, single tersebut bukan sekadar rilisan yang berdiri sendiri, tetapi menjadi penanda arah baru yang sedang dipersiapkan Temaram untuk karya-karya berikutnya.

Perjalanan menuju “Tiamut” juga melibatkan sejumlah nama yang telah memiliki kedekatan dengan Temaram. Untuk memperkuat materi tersebut, mereka mengajak dua musisi yang selama ini berada dalam lingkaran pertemanan dan perjalanan musik mereka, yakni Haikal Azizi dari Sigmun dan Bagus Pratama dari Sunlotus.

“Kami mengajak dua kolaborator dalam lagu ini yaitu Haikal Azizi (Sigmun) dan Bagus Pratama (Sunlotus),” ungkap Iqbal Tawakkal.

Bagus Pratama mengisi bagian lead guitar. Keterlibatannya sendiri bukan sesuatu yang benar-benar baru karena sebelumnya lagu tersebut telah beberapa kali dibawakan secara langsung bersama. Kehadiran Bagus kemudian memberikan warna tambahan terhadap struktur musik sekaligus membantu membangun atmosfer yang ingin dicapai Temaram.

Sementara itu, Haikal Azizi mengisi bagian vokal. Kehadiran vokal dalam komposisi Temaram memberikan dimensi baru terhadap karakter musik mereka yang selama ini banyak dikenal melalui pendekatan instrumental. Haikal merespons musik tersebut dengan karakter vokalnya sendiri sekaligus menulis lirik yang menggambarkan sosok dan karakter Tiamut.

Perpaduan antara musik instrumental Temaram, lead guitar Bagus, serta vokal dan lirik Haikal kemudian membentuk sebuah lanskap suara yang berbeda. Elemen-elemen tersebut membuat “Tiamut” terasa seperti sebuah eksperimen yang tetap berakar pada karakter lama, tetapi membuka pintu menuju kemungkinan baru.

Eksplorasi tersebut kemudian diteruskan melalui video musik “Tiamut” yang akan dirilis sebelum lagu tersedia di berbagai platform streaming digital. Video musik ini dibuat oleh Iqbal Tawakkal dengan pendekatan tiga dimensi dan dikerjakan tanpa bantuan AI.

Konsep visual tersebut lahir dari kegemaran Iqbal terhadap video game, khususnya permainan bergenre RPG dan Soulslike. Ketertarikan tersebut kemudian ia bawa ke dalam proses kreatif dengan membangun dunia visual yang memiliki atmosfer gelap, misterius, dan penuh karakter.

Menariknya, Iqbal tidak hanya bertindak sebagai pengarah visual, tetapi juga menciptakan karakter Tiamut untuk kebutuhan video tersebut. Karakter tersebut kemudian digunakan untuk membangun respons visual terhadap sosok Tiamut yang menjadi sumber inspirasi utama lagu.

Dengan pendekatan tersebut, Temaram berusaha menciptakan kesinambungan antara musik dan visual. Jika musik menjadi ruang untuk menerjemahkan karakter Tiamut melalui suara, video musik menjadi medium lain untuk memperluas narasi tersebut dalam bentuk visual.

“Tiamut” sekaligus menunjukkan bagaimana Temaram terus berusaha keluar dari batasan yang mungkin selama ini melekat pada nama mereka. Stoner dan doom metal tetap menjadi fondasi, tetapi mereka tidak berhenti di sana. Post-metal, atmosfer sinematik, elemen vokal, eksplorasi visual tiga dimensi, hingga referensi budaya populer menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang sedang mereka bangun.

Bagi sebuah band yang telah berjalan hampir satu dekade, perubahan semacam ini menjadi penting. Bukan untuk meninggalkan identitas lama, tetapi untuk menemukan bagaimana identitas tersebut dapat berkembang seiring perjalanan waktu.

“Tiamut” juga menjadi semacam penanda bahwa Temaram sedang memasuki fase baru. Jika sebelumnya eksplorasi lebih banyak dilakukan melalui musik instrumental, kini mereka mulai mempertemukan berbagai elemen lain untuk membentuk sebuah pengalaman yang lebih luas.

Kejutan dari Temaram pun tidak berhenti pada musik dan video. Seiring dengan perilisan “Tiamut”, mereka juga menyiapkan sejumlah hal lain, termasuk logo baru, merchandise, serta berbagai materi pendukung yang akan memperkenalkan wajah baru Temaram kepada pendengar dan penggemarnya.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa “Tiamut” memang diposisikan sebagai sebuah proyek yang lebih besar daripada sekadar single. Ada perubahan musikal, ada eksplorasi visual, ada kolaborasi, sekaligus ada arah baru yang sedang dipersiapkan menuju album ketiga.

Bagi Temaram, hampir satu dekade perjalanan bukanlah alasan untuk berhenti bereksperimen. Justru sebaliknya, pengalaman yang telah mereka lewati menjadi fondasi untuk terus mencari bentuk baru dalam bermusik dan bercerita.

Berangkat dari kecintaan terhadap Marvel Universe, “Tiamut” kemudian berkembang menjadi sebuah karya yang mempertemukan musik cadas, eksplorasi visual, permainan atmosfer, dan interpretasi personal para personelnya. Karakter Tiamut menjadi titik awal, sementara Temaram menjadikannya ruang untuk membangun sesuatu yang lebih dekat dengan dunia mereka sendiri.

Dengan seluruh elemen tersebut, “Tiamut” menjadi salah satu rilisan yang patut diperhatikan dari perjalanan Temaram ke depan. Bukan hanya karena hadir dengan konsep yang berbeda, tetapi karena single ini memberikan gambaran mengenai arah yang sedang mereka tuju.

Sebuah arah yang lebih luas, lebih eksploratif, dan tidak takut untuk keluar dari batas.

Dan ketika “Tiamut” akhirnya menjadi gerbang menuju album ketiga, satu hal menjadi jelas: perjalanan Temaram masih jauh dari selesai.

error: Content is protected !!