Siti Si Vampir Hadirkan Kisah Vampir Lokal di Rusun, Satine Zaneta Capek Hidup Miskin

Bagaimana jadinya kalau seorang perempuan muda yang hidup serba kekurangan tiba-tiba berubah menjadi vampir? Alih-alih mendapatkan kehidupan mewah dan kekuatan super seperti gambaran vampir pada umumnya, ia justru masih harus berhadapan dengan persoalan hidup sehari-hari. Premis unik tersebut menjadi salah satu daya tarik utama film komedi terbaru “Siti Si Vampir”, garapan sutradara Rahabi Mandra.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Film produksi Vidsee bersama Bahagia Tanpa Drama ini memperkenalkan konsep vampir lokal yang ditempatkan dalam kehidupan urban masyarakat Indonesia. Official teaser trailer yang telah dirilis memperlihatkan pertemuan dua perempuan muda dengan latar kehidupan yang sangat berbeda. Di satu sisi ada Siti, diperankan oleh Satine Zaneta, seorang perempuan yang harus menjalani hidup penuh keterbatasan di sebuah rumah susun. Di sisi lain terdapat karakter yang diperankan Shania Gracia, seorang selebritas dengan mobil mewah dan kehidupan yang jauh lebih nyaman.

Perbedaan kelas sosial dan ekonomi tersebut menjadi awal dari sebuah situasi yang tidak biasa. Ketika kehidupan Siti terasa semakin berat dan penuh keterbatasan, ia justru mendapatkan kesempatan untuk bertukar nasib dengan perempuan yang kehidupannya jauh lebih berada. Namun, rencana tersebut berubah total setelah sebuah kejadian tak terduga membuat Siti mengalami transformasi menjadi vampir.

Dalam film ini, Satine Zaneta memerankan Siti, perempuan muda yang hidup di rusun dan menjalani berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup. Salah satu pekerjaan yang harus ia jalani adalah menjadi tukang angkat galon. Siti tinggal bersama Dudi, karakter yang diperankan Ajil Ditto, seorang tukang AC yang menjadi teman sekaligus bagian penting dalam kesehariannya.

Kehidupan Siti mulai berubah ketika seorang selebritas datang ke rusun tempat tinggalnya. Karakter tersebut diperankan Shania Gracia dan sedang mencari seseorang yang bersedia menjalani kehidupan “tukar nasib” dengannya untuk sementara waktu. Situasi yang awalnya terlihat seperti kesempatan untuk Siti merasakan kehidupan yang lebih nyaman justru membawa dirinya ke dalam kejadian yang jauh lebih absurd.

Di tengah kekacauan tersebut, Siti digigit oleh vampir tampan bernama Nakula, yang diperankan Ciccio Manassero. Gigitan tersebut kemudian mengubah Siti menjadi vampir. Namun, alih-alih mendapatkan respons penuh ketakutan dari orang terdekatnya, perubahan Siti justru ditanggapi dengan candaan oleh Dudi.

“Vampir nggak ada yang miskin,” menjadi salah satu dialog yang muncul dan sekaligus menggambarkan bagaimana “Siti Si Vampir” mencoba membalik stereotip mengenai sosok vampir yang selama ini identik dengan kemewahan, misteri, kekuasaan, dan kehidupan malam.

Film ini tidak hanya menjadikan vampir sebagai elemen fantasi atau horor, tetapi menggunakannya sebagai medium untuk membicarakan persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat urban. Di balik komedinya, “Siti Si Vampir” membawa cerita mengenai perbedaan kelas sosial, kesenjangan ekonomi, sulitnya mendapatkan pekerjaan, serta keresahan anak muda yang harus menghadapi realitas hidup yang semakin berat.

Produser Celerina Judisari mengatakan bahwa konsep vampir lokal menjadi salah satu kekuatan utama film tersebut. Menurutnya, cerita yang ditawarkan tidak hanya memiliki sisi hiburan, tetapi juga memiliki relevansi dengan kondisi generasi saat ini yang banyak berhadapan dengan persoalan ekonomi dan pekerjaan.

“Siti Si Vampir adalah komedi yang unik dengan mengangkat vampir lokal Indonesia. Ceritanya akan sangat relevan dengan generasi sekarang dan banyak orang, yang lagi susah cari kerja dan capek hidup dalam kondisi yang serba sulit,” ujar Celerina Judisari.

Bagi Satine Zaneta, memerankan Siti juga menjadi pengalaman yang cukup berbeda dari proyek-proyek sebelumnya. Selain menjadi debutnya dalam genre komedi, ia harus melakukan berbagai persiapan untuk benar-benar membangun karakter Siti, mulai dari mempelajari logat yang tidak familiar hingga memahami cara bergerak dan gestur karakter tersebut.

Tidak hanya berhenti pada latihan akting, Satine bahkan benar-benar menjalani aktivitas fisik yang dilakukan karakternya dalam cerita.

“Siti Si Vampir adalah salah satu film paling menantang yang pernah aku jalani. Dari belajar logat baru yang tidak familier denganku, belajar cara jalan, gerak dan berusaha memahami isi hati dan kepala Siti. Dan tentu saja aku beneran angkat galon,” cerita Satine Zaneta.

Kehadiran Ajil Ditto sebagai Dudi turut menjadi elemen penting dalam membangun sisi komedi film. Dinamika antara Siti dan Dudi menjadi salah satu hubungan yang memberikan warna tersendiri dalam cerita. Keduanya tidak hanya menjadi pasangan karakter yang harus menghadapi situasi absurd akibat perubahan Siti, tetapi juga merepresentasikan kehidupan dua anak muda yang berusaha bertahan di tengah berbagai keterbatasan.

“Kami nyambung banget untuk bisa memainkan dinamika komedinya. Seru banget karena ansambel pemerannya anak-anak muda, dan sekaligus bisa menyuarakan keresahan banyak anak muda saat ini,” ujar Ajil Ditto.

Dengan menggabungkan komedi, drama urban, fantasi, dan konsep vampir lokal, “Siti Si Vampir” mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda dari film vampir pada umumnya. Tidak ada gambaran vampir yang hidup di kastil megah atau dikelilingi kemewahan. Sebaliknya, vampir dalam film ini justru ditempatkan di tengah kehidupan rusun, pekerjaan serabutan, persoalan ekonomi, dan realitas masyarakat perkotaan.

Konsep tersebut membuat “Siti Si Vampir” terasa dekat dengan keseharian penonton Indonesia, sekaligus membuka ruang untuk melihat persoalan sosial melalui perspektif yang ringan dan menghibur. Transformasi Siti menjadi vampir pun bukan sekadar kejadian fantastis, tetapi menjadi bagian dari perjalanan seorang perempuan muda yang sedang mencari cara untuk bertahan hidup dan menemukan tempatnya di tengah dunia yang tidak selalu berpihak kepadanya.

Film “Siti Si Vampir” diproduksi oleh Vidsee bekerja sama dengan Bahagia Tanpa Drama, AZ Films, Spectrum Film, dan PK Films. Dengan jajaran pemain muda, konsep cerita yang segar, serta pendekatan komedi yang berpijak pada keresahan kehidupan urban, film ini siap membawa cerita vampir dalam versi yang lebih dekat dengan realitas Indonesia.

“Siti Si Vampir” akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026. Bersiap menyaksikan kisah seorang perempuan penghuni rusun yang awalnya hanya ingin bertukar nasib, tetapi justru mendapatkan “nasib” baru sebagai vampir—dan tentu saja, menjadi vampir tidak otomatis membuat hidupnya bebas dari masalah.

error: Content is protected !!